AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning (26)(156)
#tantangangurusiana

Kemuning (26)(156)

Kemuning (26)(156)

🌷💝💝🌷

Salat subuh pagi itu, Faisal sebagai imam. Ketika membacakan ayat-ayat Allah, suaranya sangat syahdu. Siapapun yang mendengar pasti akan terkesima dan semakin khusuk. Namun anehnya yang dibaca Faisal adalah empat ayat terakhir surat ke-89 Al-Fajr. Faisal membacanya dengan sepenuh hati hingga tanpa dia sadari menitik air matanya. Rupanya dia telah menyatu dengan suasana pagi itu. Hal ini tidak disadari oleh Pak Arifin dan jemaah makmum lainnya.

Setelah semuanya siap, mereka pun berpamitan. Faisal memeluk Bundanya lama sekali. Seolah tak hendak berangkat. Tapi demi melihat Kemuning sudah menunggu, dia lepaskan pelukan untuk Bundanya. Begitu juga ketika berpamitan dengan Ayahnya. Faisal peluk laki-laki yang sangat dihormatinya itu sangat lama. Kemuning tak ingin mengganggu saat-saat hangat itu. Hangatnya pelukan Faisal sangat menenteramkan hati kedua orang tuanya. Tak lupa dia cium adik satu-satunya itu dengan sayang, sambil dia elus kepala Linda dengan kasih. Faisal dan Linda saling berpelukan. Kali ini pelukan Linda sangat lama.

“Ya sudah, hari sudah semakin siang. Hati-hati di jalan ya,” pesan Pak Arifin.

“Ya Yah, insyaallah,” jawab Faisal.

“Jangan lupa, setelah nyampek kabari kami,” sambung Bundanya.

“Ya Bun, insyaallah,” jawab Faisal.

Mobil Faisal bergerak perlahan meninggalkan halaman rumahnya yang asri. Dengan harapan baru yang berusaha mereka semai. Faisal dan Kemuning sangat menikmati perjalanan pulang kali ini. Impian berjalan bersisian, bersatu dalam ikatan perkawinan. Sesekali Kemuning meraba tasbih yang masih bertengger di lehernya. Sementara itu Faisal lebih asyik bersalawat. Perjalanan panjang itu harus mampu mereka taklukkan. Mereka berusaha menikmati dengan cara mereka masing-masing.

Dalam senandung salawatnya, sesekali Faisal menyelipkan beberapa kalimat berharga.

“Perjalanan ini cukup jauh, Sayang. Nanti akan kita temui berbagai pemandangan dan mungkin keajaiban. Entah itu indah atau tak indah. Entah itu menyedihkan atau menyenangkan. Apapun itu, kita harus bisa menikmatinya sebagai sebuah kebahagiaan.”

“Bagaimana caranya, Bang? Pemandangan yang indah pastilah membahagiakan. Lalu bagaimana kita bisa menemukan atau merasakan kebahagiaan pada pemandangan yang tidak indah?” tanya Kemuning sambil tetap memegangi tasbih yang terselip di balik jilbab ungu yang dia kenakan.

“Allah punya milyaran cara untuk memberi hidayah kepada hamba-Nya. Bisa lewat jalan apa saja, siapa saja, di mana saja. Seiring waktu kamu akan bisa menangkap itu semua. Itulah mengapa, kita diperintahkan untuk terus belajar, belajar, dan belajar.” Panjang lebar Faisal berusaha menyentuh hati Kemuning.

“Lalu bagaimana dengan aku yang masih sering nangis kalau menghadapi masalah yang rumit? Apakah Allah juga akan memberi aku hidayah seperti kata Abang?”

“Menangis itu tanda lembut hati. Nggak apa-apa. Tapi jangan berlebihan. Tetap gunakan logika yang sehat. Lembutkan hatimu, tajamkan logikamu. Belajarlah tafakur dan berzikir. Tafakur membuat hati meluas. Berzikir membuat hati semakin jernih."

“Maksudnya bagaimana sih, Bang?”

“Air mata itu anugerah. Semua manusia dianugerahi itu. Gunakan dengan semestinya dengan porsi yang pas. Kamu akan bisa rasakan betapa air mata tidak hanya digunakan untuk menangis.”

“Laki-laki boleh nangis nggak Bang?”

“Boleh. Bukankah laki-laki juga seorang hamba. Kalau laki-laki menangis bukan berarti dia lemah. Dia hanya mensyukuri anugerah Allah yang berupa air mata. Sayang kan, sudah dianugerahi air mata tidak dimanfaatkan?”

“Abang pernah nangis?”

“Pernah. Bahkan tadi pagi aku nangis.”

“Oh ya? Kenapa? Kok aku nggak tahu,” Kemuning terkejut mendengar pernyataan Faisal.

“Ya sudahlah, nggak usah dibahas. Biarlah itu menjadi urusanku dengan Allah,” jawab Faisal sambil konsentrasi penuh ke jalan raya.

Seperti biasanya, sudah menjadi kebiasaan. Pembicaraan mereka tak pernah tuntas dan memuaskan. Sering kali Kemuning jadi uring-uringan. Setiap kali dia mempertanyakan hal itu, Faisal selalu meminta Kemuning untuk belajar berpikir. Di situlah Faisal mengajak Kemuning untuk belajar menemukan makna hidup. Jangan hanya terima jadi, jangan suka memaksakan kehendak, tapi cari dan cari mengapa bisa demikian.

Olahpikir dan olahrasa seperti inilah yang selalu Faisal tanamkan pada Kemuning agar Kemuning memiliki hati dan pikiran yang lembut dan dalam. Hal itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi Faisal yakin, Kemuning akan menemukan jalannya sehingga bisa mendapatkan kenikmatan hidup yang sesungguhnya. Itulah makna kebahagiaan.#🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post