AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning (25)(155)
#tantangangurusiana

Kemuning (25)(155)

Kemuning (25)(155)

🌷💖💖🌷

Begitulah, kalau Faisal sudah bertemu Linda, adik satu-satunya. Meskipun saat ini Linda sudah kuliah semester 4, tetap saja Faisal menganggapnya sebagai anak kecil. Yang masih harus dimanjakan. Kemana-mana harus diantar. Melihat sayangnya Faisal kepada Linda mengingatkan Kemuning kepada Paklik Handoyo. Selama ini pakliknya itulah yang bisa menuruti semua keinginannya. Pakliknya itulah yang selalu memanjakannya. Melihat itu semua, Kemuning hanya mampu tersenyum.

“Eh, dari tadi kok ada yang senyum-senyum doang. Ngomong juga boleh kok Bu, nggak ada yang larang,” goda Faisal sambil menyenggol pundak Kemuning dengan pundaknya. Lalu Faisalpun mengambil duduk di samping ibunya. Benar kata Linda, kali ini Faisal benar-benar telah membuatnya mati kutu di depan Pak Arifin dan Bu Aminah.

“Oh ya Yah, Bun, Faisal dan Kemuning besok balik pagi-pagi ya. Selepas salat subuh kita langsung berangkat. Kasihan tuh anak orang, sudah kangen pingin netek emaknya,” kata Faisal sambil dagunya menunjuk ke arah Kemuning. Kemuning hanya bisa melirik manja ke arah Faisal yang lagi mengudap buah pir.

“Ya, jangan lupa bilang ke Bapak Ibu Surya kita ke Semarang seminggu lagi ya,” pesan ibunya mengingatkan.

“Ya, nanti saya sampaikan ke Bapak Ibu Mertua saya,” kembali Faisal mengerling kepada Kemuning.

“Cie cieee…. Yang mau punya mertua,” tiba-tiba Linda nimbrung.

Kemuning seperti mati kutu, kaku, dan kelu dibuat Faisal nggak berkutik. Seandainya diperbolehkan ingin rasanya dia mencubit Faisal sekencang-kencangnya. Kemuning hanya bisa tersenyum tertahan. Dia khawatir akan susah tidur malam ini. Faisal memang keterlaluan.

Sepertinya di ruang tamu lagi ada tamu, temannya Pak Arifin. Ada dua orang laki-laki yang berbincang akrab di sana. Mereka tertawa bersama, sangat seru. Faisal mengajak Kemuning untuk geser ke ruang belakang. Ternyata di bagian belakang rumah Faisal ada halaman yang cukup luas.

“Kalau sudah ngantuk sebaiknya kita tidur yuk! Besok kita melakukan perjalanan jauh,” kata Faisal sambil menyodorkan lemon hangat kepada Kemuning.

“Capek tadi pagi belum juga hilang, Bang.”

“Oh, mau nginep lagi? Nggak mau pulang? Belum waktunya, Sayang.”

“Ih! Abang ini! Apaan sih?”

“Ya udah, tidur dulu sana gih, saya mau mempersiapkan berkas-berkas yang mau dibawa besok,” jawab Faisal sambil membukakan pintu kamar untuk Kemuning.

“Jangan lupa dikunci pintunya, ya. Kalau nggak, bisa bahaya lo,” goda Faisal. Kali ini Kemuning sudah berhasil melayangkan cubitan sayangnya ke pinggang kekasihnya itu.

“Au!” teriak Faisal tertahan.

Kemuning segera mengatupkan telunjuk ke bibirnya.

“Sakit tau!”

“Manja banget sih Bang,” Kemuning tersenyum geli.

“Ada saatnya manja seperti kucing yang minta dielus. Tapi ada saatnya pula harus mengaum seperti mbahnya kucing,” jawab Faisal sambil terkekeh. Kemuning pun ikut tertawa. Hatinya kiat terpaut. Sudah bukan saatnya untuk menghayal. Ini dunia nyata yang diciptakan Faisal untuknya.

Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah foto yang terletak di sudut meja. Terlihat dari foto itu, Pak Arifin, Bu Aminah, Faisal, dan Linda berpakaian serba putih di depan bangunan ka’bah. Rupanya keluarga ini sudah melaksanakan ibadah haji. Kemuning semakin bergetar ketika tiba-tiba Faisal mengalungkan sebuah tasbih ke lehernya.

“Ini sudah saya persiapkan untuk siapapun calon istriku kelak. Di depan ka’bah itu pula aku berdoa, bermunajat kepada Allah agar aku diberi jodoh seorang perempuan yang baik. Dan tiba-tiba, entah dari mana di pangkuanku sudah ada tasbih ini. Ya aku pikir ini adalah alat untuk selalu menyebut asma-Nya,” jelas Faisal.

“Lalu kenapa Abang berikan ke aku? Kan bisa Abang pakai untuk zikir?” tanya Kemuning.

“Sama saja, Sayang. Kamu kan dikirim Allah untukku. Ya tasbih ini untukmu juga lah. Aku ingin kamu juga bisa zikir pakai tasbih ini.”

“Masyaallah Abang,” Kemuning tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terima tasbih pemberian Faisal itu dengan penuh syukur sambil berlinang air mata.

“Karena itu jangan tidak zikir ya. Zikir bisa membuat hati tenang,” kata Faisal sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.

“Iya, terima kasih Bang, insyaallah. Aku akan tetap zikir,” jawab Kemuning kemudian.

“Alhamdulillah. Ya sudah, sudah tenang kan? Selamat tidur, Tuan putri. Semoga mimpi indah ya. Ada Faisal di sini dengan seribu peribahasa.”

Kemuning pun masuk kamar dengan masih memegangi tasbih yang terkalung di lehernya. Rasanya enggan untuk melepaskan tasbih itu. Tasbih yang tersusun dari mutiara kecil-kecil warna biru safir, sangat indah dan berkilau. Tak bisa digambarkan lagi betapa bahagia hati Kemuning. Di dalam doanya dia memohon kepada Allah agar dilancarkan rencana lamarannya seminggu lagi. #🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post