AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning (22)(152)
#tantangangurusiana

Kemuning (22)(152)

Kemuning (22)(152)

🌷💝💝🌷

Pagi menyingsing. Sinar matahari mencoba mencari celah menembus daun mangga yang tumbuh di samping rumah Kemuning. Sinarnya yang hangat memberi semangat baru kepada para penghuni rumah itu. Semangat yang tidak biasa. Semangat yang membuat sebentuk hati menjadi kian tertawan. Tidak biasa mendapat pencerahan, tidak biasa mendapat pengakuan, tidak biasa mendapat dukungan. Semua itu mereka dapatkan dari sosok yang baru sekian jam mereka kenal. Rasanya seperti terlahir kembali di dunia baru. Penuh dengan bunga. Indah namun masih tertutup tirai tipis yang bergoyang tertiup angin, sepoi-sepoi.

Setelah semuanya siap, Kemuning bergegas berangkat ke kantor dengan bahagia. Sebentuk syukur selalu dia panjatkan ke hadirat yang mahakuasa. Bagaimana tidak bersyukur? Dia telah dipertemukan dengan seorang pemuda yang sangat baik, saleh, sopan, pandai pula mengambil hati kedua orang tuanya. Ini sebuah anugerah yang luar biasa dari Allah. Harapan dan doanya selama ini telah terjawab.

Sebagai rasa syukurnya, Kemuning singgah sebentar ke sebuah yayasan panti asuhan tak jauh dari kantornya. Dia sisihkan gaji bulanannya untuk sekadar menyenangkan anak-anak yang tinggal di sana. Kebetulan Kemuning mengenal pengasuh di panti itu, Bu Vina namanya. Setiap kali menyempatkan singgah ke panti itu mereka sempatkan untuk ngobrol sejenak.

“Mbak Kemuning apa kabar, sudah lama tidak mampir ke sini,” kata Vina sambil menyodorkan secangkir teh.

“Alhamdulillah kabar saya baik, Mbak,” jawab Kemuning sambil menyerahkan bingkisan berupa mainan untuk anak-anak panti.

“Oh ya Mbak Vina, tolong ini diterima. Sekadar mainan untuk menyenangkan anak-anak manis ini.”

Sementara di belakang Kemuning sudah menunggu wajah-wajah polos dengan gembira. Melihat sinar mata mereka yang diselimuti kebahagiaan merupakan kebahagiaan tersendiri buat Kemuning. Seandainya tidak harus segera ke kantor, ingin rasanya dia berlama-lama di panti itu.

Suatu saat Abang harus diajak ke sini, gumam Kemuning dalam hati. Abangnya harus tahu bagian dari kebahagiannya. Setelah dirasa cukup, Kemuning berpamitan untuk melanjutkan agendanya hari itu. Kemuning menuju ke kantor dengan hati bahagia berlipat.

Kebahagiaan itu jelas terpancar di raut wajah ayu Kemuning. Itu bisa dirasakan pula oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Kemuning yang setiap harinya selalu tegas kali ini agak melunak. Disapanya seluruh penghuni kantor dengan senyum dan tawanya yang khas. Tidak hanya senyum dan tawa saja yang dia bagi, tetapi juga bentuk kebahagiaan yang lain. Ini tentu saja menjadi bahan pertanyaan bagi Pak Burhan dan Fifi. Kesempatan ini tak disia-siakan Fifi. Dia langsung menanyakan itu pada Kemuning.

“Tumben-tumbenan Mbak Kemuning, cerah banget. Saya jadi ikut bahagia lo Mbak,” kata Fifi sambil tersenyum.

“Alhamdulillah kalau kamu bisa ikut bahagia,” jawab Kemuning sambil tersenyum juga.

“Sepertinya Mbak Kemuning lagi berbahagia. Cerita dong, Mbak,” bujuk Fifi sambil mendekat ke meja Kemuning.

“Oh ya, gimana kabar hubunganmu dengan si Ari?”

“Alhamdulillah, kami baik-baik saja Mbak. Kenapa tiba-tiba Mbak Kemuning menanyakan hubungan saya dengan Mas Ari?”

Kemuning hanya tersenyum sambil menandatangani sebuah berkas yang sudah ada di mejanya. Hal ini tentu saja membuat Fifi makin penasaran.

“Kalau dilihat aromanya, sepertinya semalam Mbak Kemuning dilamar Mas Faisal ya?” Fifi mencoba menebak.

“Tidak boleh nebak-nebak ya, siapa yang mengizinkan kamu nebak-nebak kayak gitu. Nggak boleh, tahu?” jawab Kemuning sambil tersenyum.

“Tuh kan? Benar kan Mbak? Ih! Kenapa nggak bilang-bilang Mbak, tahu begitu saya kan bisa hadir,” sahut Fifi sambil mendekatkan posisi duduknya ke samping Kemuning.

“Ntar aja, kalau sudah lamaran resmi kamu harus ke rumah. Ya?”

“Oh, siap Mbak. Pasti!” jawab Fifi mantap.

“Tapi, tolong simpan dulu kabar ini sampai hari lamaran itu tiba. Ayah Bunda Bang Faisal dalam waktu dekat akan ke rumah. Tolong jangan bilang ke teman-teman!” tegas kemuning. Dia tidak mau semua orang tahu sebelum hari lamaran itu tiba.

“Baik Mbak. Siap!” jawab Fifi disertai gerakan hormat seperti hormatnya seorang prajurit kepada komandannya.

Keduanya tersenyum sambil menutupkan jari telunjuk ke bibir mereka masing-masing. Fifi sangat bahagia mendengar berita ini. Dia akan pegang janjinya pada Kemuning untuk menyimpan baik-baik berita bahagia ini. Jika saatnya tiba Kemuning sendiri yang akan menyampaikan berita ini kepada Pak Burhan dan teman-teman sekantornya. #🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post