AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web

Kemuning (20)(150)

Kemuning (20)(150)

🌷💖💖🌷

Acara kirim doa belum dimulai, terdengar ada mobil yang datang. Semua yang hadir melongok ke luar. Rupanya banyak yang penasaran juga. Mobil itu perlahan memasuki halaman rumah Kemuning. Sebentar kemudian seseorang keluar dari mobil itu dan segera menuju ke tuan rumah.

“Tamu agung dari mana ya?” tanya salah satu jemaah yang hadir.

“Mungkin temannya Mbak Muning,” jawab yang lain.

Sementara itu,

“Assalamualaikum,” salam Faisal perlahan.

“Waalaikumsalam,” jawab yang hadir.

Pak Surya yang berdiri di depan pintu segera menerima uluran tangan Faisal.

“Maaf Pak, saya Faisal, teman Kemuning.”

“Oh ya, mari-mari Nak Faisal, silakan masuk dan pilih tempat duduk yang nyaman,” jawab Pak Surya.

“Inggih Pak,” jawab Faisal, “maaf ini ada sedikit bingkisan.”

Pak Gianto, orang kepercayaan Faisal segera menyerahkan sesuatu kepada Pak Surya.

“Wo lha kok repot-repot to Nak. Jadi sungkan saya,” kata Pak Surya.

Sebagai orang Jawa beliau menunjukkan rasa simpatinya kepada tamu barunya itu. Meskipun dalam hati Pak Surya masih bertanya-tanya, dari mana Kemuning bisa mengenal pemuda yang baik seperti Faisal ini. Orangnya ramah, sederhana, ganteng, sopan. Orang Jawa menyebutnya mriyayeni (terhormat). Rupanya ayah Kemuning ini sudah kesengsem (terpikat) pada pandangan pertama dengan penampilan Faisal. Dan memang beliau tidak salah. Faisal, seorang pemuda yang baik. Ayahnya yang asli Nganjuk telah menanamkan kesederhanaan, sementara ibunya yang asli Padang telah menanamkan kesopanan. Paduan yang sangat pas.

Tak berapa lama tahlil pun berlangsung. Semua jemaah larut dalam doa-doa dan kalimat toyibah yang dipimpin oleh Pak Ilham, seorang kiai kampung tetangga Kemuning. Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat ketika ada acara kirim doa untuk para leluhur yang telah meninggal. Bentuk penghormatan itu dapat berupa sedekah yang terbalut dalam doa-doa. Ada beberapa manfaat yang didapatkan. Bisa bersedekah sekaligus melantunkan doa dengan harapan diijabah oleh Allah SWT.

Setelah acara selesai, para jemaah yang dari semula bertanya-tanya tentang pemuda ganteng itu pun memberanikan diri untuk bertanya. Setelah mereka tahu kalau pemuda itu adalah teman Kemuning, mereka pun manggut-manggut sambil senyum-senyum. Dan sudah bisa dipastikan besok berita ini sudah tersebar di kampung Kemuning. Sudah bukan rahasia lagi, setiap berita, apapun itu akan cepat tersebar.

Malam itu Faisal dengan tenang menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan keluarga Kemuning. Terutama ibunya. Bukan Faisal namanya kalau nggak bisa mengambil hati ibu Kemuning. Gaya bicaranya yang sopan dan pilihan kata-katanya yang pas membuat Bu Wilujeng larut dalam pembicaraan. Terdengar beberapa kali tawa renyah keluar dari suara Bu Wilujeng, Pak Surya, Paklik Handoyo, dan Kemuning. Dan malam itu juga Faisal menyampaikan pengakuannya dengan tegas kepada bapak ibu Kemuning kalau dia serius menjalin hubungan dengan Kemuning. Tentu saja ini sangat membahagiakan Kemuning.

“Kedatangan saya kemari berniat baik Pak, Bu. Selain berniat bersilaturahmi, saya juga bermaksud menginginkan putri Bapak dan Ibu. Ini hanya pembuka jalan saja. Insyaallah dalam waktu dekat Ayah Bunda saya akan saya ajak sowan ke sini. Semoga Bapak dan Ibu berkenan menerima,” ucap Faisal sambil melirik Kemuning yang sedari tadi berusaha menyembunyikan wajah malunya.

“Apa nggak terlalu cepat to Nak?” Bu Wilujeng menukas.

“Hal baik harus disegerakan, Bu. Kalau ditunda-tunda malah nggak baik,” tegas Faisal dengan sopan.

Jawaban Faisal ini seolah meruntuhkan tembok keangkuhan Bu Wilujeng. Anggapannya selama ini tentang pernikahan beda suku terjawab dengan indah oleh Faisal. Benar juga kata Faisal, perkara yang baik harus disegerakan.

“Baiklah Nak, berita baik ini tentu akan kami tunggu. Semoga ayah bunda Nak Faisal selalu sehat,” jawab Pak Surya. Hatinya telah jatuh pada pemuda yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu.

“Lha Kemuning nggak ditanya dulu to Kangmas, mau apa nggak dia dengan niatnya Mas Faisal,” tiba-tiba Paklik Handoyo nimbrung pembicaraan sambil nyolek pinggang Kemuning yang dari tadi diam saja.

Paklik Handoyo memang selalu bisa mencairkan suasana. Kemuning pun menatap pakliknya sambil merengut.

“Lho lha kok cemberut. Yakin nih, kamu nggak mau?” goda pakliknya.

“Paklik apa sih ah!” Kemuning semakin memerah pipinya. Tentu saja ini bisa ditangkap oleh Faisal dan dia pun tersenyum. Yang ada di ruang tamu itupun tertawa bahagia mengiringi kebahagiaan Kemuning dan Faisal. Langkah pembuka yang indah bagi Faisal dan Kemuning. Keduanya saling memandang dengan tatapan yang hanya mereka yang tahu maksudnya.#🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post