AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning (19)(149)
#tantangangurusiana

Kemuning (19)(149)

Kemuning (19)(149)

🌷💖💖🌷

"Abang, mulai deh!" keluh Kemuning.

"Lho kan bener, kamu harus siap-siap. Mempersiapkan segala keperluan kirim doa untuk mbah kakung dan mbah utimu. Memangnya dikira siap-siap apa?" tanya Faisal penuh selidik.

"Hmm, tahu deh. Sebel!"

Terdengar dari suaranya sepertinya Kemuning lagi ngambek menahan malu.

"Yah, marah lagi," sergah Faisal, "jangan marah-marah melulu Bu. Ntar cepet tua lo."

"Nggak lucu!"

"Bener lo. Tetangga sebelah rumahku. Dia kelihatan lebih tua dari usianya. Tahu nggak kenapa coba?"

"Hmm, nggak tahu."

"Rupanya dia tu hobinya marah-marah. Sampai ayam lewat pun dia marahi. Aneh kan?"

"Masak segitunya sih, Bang?"

"Orang marah itu ibaratnya kayak api yang membakar kayu itu lo. Api nggak pernah perhatikan yang ia kenai itu apa. Asal kayu, kering, ya ia lalap habis."

"Tapi aku kan bukan api."

"Ya udah sana siap-siap. Insyaallah aku akan datang bersama Pak Gianto."

Faisal pun menutup telpon Kemuning dengan ucapan salam. Kemuning masih tercenung mendengar pembicaraan Faisal barusan.

"Abang gimana sih, aku kan cuma nanya. Aku harus siap-siap untuk apa? Kok malah katanya aku sukanya marah-marah. Gimana sih? Sebel deh!" Gumamnya sambil berjalan menuju dapur membantu Yu Rah. Acara kirim doa nanti selepas magrib akan mengundang beberapa tetangga dekat. Bu Wilujeng dengan dibantu Yu Rah sejak pulang dari pasar sudah sibuk di dapur.

Kemuning pun tak mau ketinggalan. Secapek apapun, sepulang kantor dia langsung nimbrung di dapur. Inilah kesempatan dia menyampaikan sesuatu kepada ibunya.

"Bu, nanti ada teman Muning yang datang."

"Teman yang mana?"

"Ada teman Muning, teman baru Bu. Aku belum pernah cerita ke Ibu ya."

"Pacar to Mbak?" tiba-tiba Yu Rah ikut nimbrung.

"Ya dekatlah Yu," jawab Kemuning sambil memasukkan beberapa makanan kecil ke kotak.

"Anak Ibu sudah punya seseorang to?" Bu Wilujeng pun tak kalah penasaran.

"Dia baik, Bu. Saleh, santun. Insinyur pula," kata Kemuning sambil tersenyum tertahan. Ada rasa syahdu yang terselip lewat kata-katanya.

"Namanya siapa? Terus dia orang mana?"

"Namanya Faisal, Bu. Apa penting ya Bu untuk tahu dia orang mana?" Kemuning mencoba menelisik.

"Bukan masalah penting tidak penting, Nduk. Kita ini orang Jawa. Kalau bisa ya dapatnya orang Jawa," jawaban ibunya sempat menghentikan pekerjaan Kemuning.

"Maksudnya Bu?" kali ini Kemuning harus tahu alasan ibunya.

"Nanti saja kita bahas. Wong orangnya belum datang kok sudah dirasani. Nanti dia keselek lo."

Ibunya pun beranjak meninggalkan tanya di benak Kemuning. Dia termenung memikirkan kata-kata ibunya. Berbagai pertanyaan berkejaran di benaknya. Kemuning nggak mau sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuannya. Kemuning nggak mau ibunya atau siapapun bakal berada di pihak yang berseberangan dengannya.

Azan magrib sayup berkumandang. Kemuning masih saja terdiam. Dia belum mulai membuka pembicaraan dengan ibunya. Setelah menunaikan salat, ibu dan ayahnya makin larut dalam acara kenduri yang sebentar lagi akan segera dimulai. Para tetangga yang diundang sudah berdatangan. Tak ketinggalan Paklik Handoyo dan Bulik Sami pun datang sebelum magrib tadi. Rasanya bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Abangnya ke keluarganya. Kemuning harus menunggu saat yang tepat.#🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post