AMINI

Guru Bahasa Indonesia di SMPN1 Nganjuk.., lulusan Fak Sastra Univ Jember.., suka menulis puisi, sajak, syair.., padahal jurusan kuliahnya lebih bergelut dgn lin...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning (17)(147)
#tantangangurusiana

Kemuning (17)(147)

Kemuning (17)(147)

🌷💝💝🌷

Pagi itu Kemuning terlihat sudah siap dengan baju olahraganya. Paduan celana trening warna biru tosca dengan kaus lengan panjang warna putih tulang sangat serasi dengan jilbab bunga-bunga dominan tosca. Gadis sederhana yang ternyata tak sesederhana yang terlihat itu telah siap menunggu Faisal. Pagi ini kedua anak muda itu ingin bersepeda keliling alun-alun kota. Terlihat wajah ayu Kemuning makin berbinar. Hatinya sedang bahagia. Faisal yang dirindukannya telah ada di sampingnya.

Sementara Faisal tampil tak kalah trendinya. Karismanya sebagai pria dewasa terbalut oleh pakaian olahraga yang dikenakan. Celana trening warna biru tua dipadu dengan kaus putih berbalut jaket casual. Sederhana namun pas di tubuh pemuda 28 tahun itu. Tampilan yang sederhana dan selalu rapi inilah yang membuat Kemuning tak bisa melupakan Faisal barang sedetik pun. Apalagi kumis tipis yang melintas di atas bibirnya yang merah, semakin membuat Kemuning tunduk dan tak berdaya. Gambaran bibir merah penghafal ayat-ayat pendek.

"Cerah amat, Bu. Lagi jatuh cinta ya," goda Faisal sambil terus mengayuh sepedanya.

"Eh si Bapak tahu aja," balas Kemuning dengan manjanya.

"Siapa sih yang bisa bikin Ibu jatuh cinta?"

"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" pipi Kemuning memerah jambu.

"Seistimewa apa sih dia?" Faisal masih saja menggoda.

"Pokoknya dia sangat istimewa. Mengalahkan istimewanya Aceh dan Yogyakarta," jawab Kemuning sambil melesat tiba-tiba. Sepeda dikayuh sekuat tenaga agar menjauhi Faisal. Dia tidak mau kalau Abangnya itu kian menangkap malu hatinya.

Faisal pun tertawa sambil terus mengayuh sepedanya mengejar Kemuning. Semua orang yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum. Ada pula yang masa bodoh dengan keduanya. Aroma cinta sangat kentara. Bunga-bunga cinta kian mekar dan mewangi.

Bersepeda berdua sambil melontarkan kata-kata pujian membuat keduanya telah mengitari alun-alun kota sebanyak beberapa kali. Lelah tak dirasa. Keringat bercucuran tak dihiraukan.

"Kita istirahat dulu yuk Bang. Aku capek," ujar Kemuning sambil menyeka keringatnya dengan tissue dari tas pinggangnya.

"Pagi ini alun-alun ramai sekali, Sayang. Kita istirahat di mana?" jawab Faisal sambil mengamati sekiranya ada tempat yang kosong untuk mereka sekadar meluruskan kaki.

Kemuning pun ikut memutar pandangannya.

Dan kedua anak muda yang lagi dimabuk asmara itu sepakat memilih lesehan di trotoar alun-alun, sambil menikmati kesegaran pagi. Car Free Day pagi itu sangat ramai. Banyak warga ingin menikmati segarnya pagi dengan mencari sehat. Orang berlalu-lalang sambil berolahraga. Ada yang jalan kaki, ada yang bersepeda, mengelilingi alun-alun kota seperti yang dilakukan Kemuning dan Faisal. Ada pula yang senam bersama di tengah alun-alun.

Mobilitas warga kian semarak dengan adanya para penjual segala macam makanan. Dengan berderet di tepi trotoar, para pedagang itu mencoba mengais rezeki. Macam-macam yang dijual. Ada yang menjual makanan, minuman, mulai yang sudah dikemas siap saji maupun yang baru diseduh. Ada pula yang berjualan aksesori dengan berbagai model dan harga.

Kesempatan seperti inilah yang sangat disukai Kemuning. Selalu ada Faisal di sampingnya. Meskipun tak sekalipun Faisal mengizinkan Kemuning hanya untuk sekadar menyandarkan kepalanya di bahunya. Faisal sangat menjaga ketulusan cinta mereka dengan tidak sekalipun menyentuh Kemuning.

Pada awalnya tentu saja Kemuning menanyakan tentang hal ini.

"Belum muhrim."

Itu jawaban tegas Faisal. Mau nggak mau, suka nggak suka, kali ini Kemuning harus terima prinsip Faisal. Kemuning pun tidak berani memaksakan keinginannya. Dia tidak mau Faisal malah meninggalkannya hanya karena keinginannya yang memaksa. Perlahan-lahan Kemuning mencoba menahan diri.

Bukan ingin lebih, tapi Kemuning ingin istikamah mendapatkan cinta dan kasih sayang Faisal. Setetes demi setetes bagai embun yang setia menemani daun hingga ke ujungnya. Faisal pun merasakan perubahan sikap Kemuning yang makin lama makin sulit dia lupa. Bagai sinar matahari yang baru menyeruak di ufuk. Indah dan mengindahkan.#🌷

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post